Mengungkap Pesan Tersembunyi "TANDA DEMOKRASI MASIH MUDA"
Tidak mudah membangun kesepahaman bersama dalam multi komunitas, banyak rintangan yang akan menghalangi, apalagi perbedaan sebuah keniscayaan hidup, fithrah manusiawi sebagai corak pemikiran akal sehat, hal ini dapat kita pahami dari firman Allah swt. "Walau sya`allahu laja`alakum ummatan wahidah, walakin liyabluakum fima atakum fastabiqul khairat, ilallahi marji`ukum jami`an, fayunabbi`ukum bima kuntum fihi takhtalifun".
berangkat dari nilai nilai agamis yang kian terkikis, membumikan kembali jiwa santri pada masyarakat dewasa ini, dengan tetap berpedoman pada generasi salafussolih, menjadi supel dalam bergaul dan berakhlak baik terhadap sesama.. salam nyantri
Kamis, 03 Februari 2011
MENGGAGAS FIQIH YANG AKOMODATIF
Munculnya wajah Islam dalam kehidupan sosial yang berimplikasi pada sosialisasi fiqih, selalu menimbulkan pro-kontra para cendekiawan muslim dunia. Hal ini dipicu oleh kontrasnya panorama realitas sosial masyarakat muslim yang modern, plural dan heterogen dengan realitas sosial masyarakat muslim lainnya yang terkesan klasik, ortodok dan mu'tazil.
fleksibilitas syariat
Kehidupan dan perputaran roda dunia yang tidak lepas dari kubangan ruang dan waktu menuntut semua sunah Allah swt. yang berjalan di muka bumi ini dikondisikan dan diselaraskan dengan style setting zaman, tempat dan waktu. Disamping itu, setting objek juga sangat berakses pada gaya hidup zaman tersebut.
Sebagai agama penerus yang telah dibumikan dan diformulasikan oleh Nabi Adam as. Islam juga tidak lepas melakukan transformasi dan adaptasi terhadap setting realitas sosial di zamannya sehingga berimplikasi pada perbedaan syari’at yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya, sebagai contoh, syari’at Musawiyyah lebih berat daripada syari’at Isawiyyah, syari’at Muhammadiyyah juga tidak lepas diselaraskan dengan realitas sosial umatnya yang ummi dan kurang mengenal peradaban dibanding umat lain disekitarnya pada saat itu, dan lemahnya umat Muhammad Saw. dibanding umat-umat nabi terdahulu.
Sebagai agama penerus yang telah dibumikan dan diformulasikan oleh Nabi Adam as. Islam juga tidak lepas melakukan transformasi dan adaptasi terhadap setting realitas sosial di zamannya sehingga berimplikasi pada perbedaan syari’at yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya, sebagai contoh, syari’at Musawiyyah lebih berat daripada syari’at Isawiyyah, syari’at Muhammadiyyah juga tidak lepas diselaraskan dengan realitas sosial umatnya yang ummi dan kurang mengenal peradaban dibanding umat lain disekitarnya pada saat itu, dan lemahnya umat Muhammad Saw. dibanding umat-umat nabi terdahulu.
abdurrahman addiba'i (pengarang maulid addiba'i)
Sang Penyair yang Rendah Hati
(866 H. – 944 H.)
Oleh: Abu Yahya*
يا بدر تم حاز كل كمال # ماذا يعبر عن علاك مقالي
Wahai purnama yang memiliki segala kesempurnaan
Dengan ucapan apa bisa kuungkapkan kemuliaanmu
Maqbarah Syeikh Isma'il Jabarti (Zabid) yang di dalamnya terdapat maqam Abdurrahman Ad Diba'i
Pelantun syair pujian atas Nabi Muhammad SAW. yang lebih dikenal dengan Maulid Diba` ini, bernama lengkap Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad Diba`i Asy Syaibaniy, beliau juga dikenal dengan julukan Ibn Diba`. Sebenarnya kata "Diba`" adalah julukan (laqob) kakeknya yang bernama Ali bin Yusuf Diba` yang dalam bahasa Sudan berarti putih. Dalam kitabnya yang berjudul Bughyatul Mustafid, beliau menuliskan di bagaian akhir kitab tersebut tentang sekilas riwayat hidupnya. Disebutkan bahwa beliau dilahirkan di kota Zabid (salah satu kota di Yaman utara) pada sore hari Kamis, 4 Muharram, 866 H.
(866 H. – 944 H.)
Oleh: Abu Yahya*
يا بدر تم حاز كل كمال # ماذا يعبر عن علاك مقالي
Wahai purnama yang memiliki segala kesempurnaan
Dengan ucapan apa bisa kuungkapkan kemuliaanmu
Maqbarah Syeikh Isma'il Jabarti (Zabid) yang di dalamnya terdapat maqam Abdurrahman Ad Diba'i
Pelantun syair pujian atas Nabi Muhammad SAW. yang lebih dikenal dengan Maulid Diba` ini, bernama lengkap Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad Diba`i Asy Syaibaniy, beliau juga dikenal dengan julukan Ibn Diba`. Sebenarnya kata "Diba`" adalah julukan (laqob) kakeknya yang bernama Ali bin Yusuf Diba` yang dalam bahasa Sudan berarti putih. Dalam kitabnya yang berjudul Bughyatul Mustafid, beliau menuliskan di bagaian akhir kitab tersebut tentang sekilas riwayat hidupnya. Disebutkan bahwa beliau dilahirkan di kota Zabid (salah satu kota di Yaman utara) pada sore hari Kamis, 4 Muharram, 866 H.
Rabu, 02 Februari 2011
do'a rebo wekasan (bulan safar)
Disebutkan oleh sebagian Ulama’ ahli ma’rifat dan ahli mukasyafah :
Bahwasanya setiap tahun di turunkan 320 000 macam bala’dan semua itu diturunkan diwaktu hari rabu terahir bulan Safar.maka siapa orang yang sholat sunnah Diwaktu hari itu sebanyak empat rokaat ,setiap rokaat setelah membaca surat Alfatihah membaca surat Alkautsar (ا اناأعطيناك الكوثر ) 7 X dan surat Alikhlas 5X dan membaca Al maudzatain(قل أعوذ برب الفلق . دان قل أعوذ يرب الناس ) 1x
Bahwasanya setiap tahun di turunkan 320 000 macam bala’dan semua itu diturunkan diwaktu hari rabu terahir bulan Safar.maka siapa orang yang sholat sunnah Diwaktu hari itu sebanyak empat rokaat ,setiap rokaat setelah membaca surat Alfatihah membaca surat Alkautsar (ا اناأعطيناك الكوثر ) 7 X dan surat Alikhlas 5X dan membaca Al maudzatain(قل أعوذ برب الفلق . دان قل أعوذ يرب الناس ) 1x
Langganan:
Postingan (Atom)